Struktur Negasi Bahasa Rejang Musi di Kabupaten Rejang Lebong

Authors

  • Herman Gusmanto Universitas Bengkulu, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.29240/estetik.v9i1.16444

Keywords:

Bahasa Rejang Musi, Cakupan Negasi, Posisi Negasi, Sintaksis, Wujud Negasi

Abstract

Abstrak: Bahasa Rejang Musi merupakan salah satu dialek bahasa Rejang yang termasuk dalam rumpun Austronesia yang memiliki sistem negasi yang relatif kompleks dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, posisi, dan cakupan negasi dalam bahasa Rejang Musi di Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kerangka linguistik struktural. Data dikumpulkan melalui teknik Simak Libat Cakap (SLC), teknik Sadap, Simak Libat Bebas Cakap (SLBC), dan teknik Catat dari empat informan penutur asli di Desa Tabarenah, Kecamatan Curup Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sembilan bentuk negasi, terdiri atas enam negasi tunggal (coa, iso, ati, buye, jibeak, cigei) dan tiga negasi kompleks (coa bakea, coa nyut, coa kulo). Analisis sintaksis menunjukkan bahwa konstituen negatif cenderung menempati posisi sebelum unsur yang dinegasikan. Variasi posisi ini memungkinkan perbedaan cakupan negasi terhadap predikat, proposisi, maupun keterangan sehingga memengaruhi fokus semantik kalimat. Hasil penelitian ini memperkaya kajian tipologi bahasa daerah serta memberikan kontribusi terhadap dokumentasi linguistik bahasa Rejang.

Kata Kunci:  Bahasa Rejang Musi, Cakupan Negasi, Posisi Negasi, Sintaksis, Wujud Negasi.

Abstract: The Rejang Musi language is one of the dialects of the Rejang language belonging to the Austronesian language family, which possesses a relatively complex negation system compared to Indonesian. This study aims to describe the forms, positions, and scope of negation in the Rejang Musi language in Rejang Lebong Regency. This research employs a qualitative descriptive method within a structural linguistic framework. The data were collected using the Simak Libat Cakap (SLC) technique, the Sadap technique, Simak Libat Bebas Cakap (SLBC), and the Note-taking technique from four native speaker informants in Tabarenah Village, Curup Utara District. The results show that there are nine forms of negation, consisting of six single negations (coa, iso, ati, buye, jibeak, cigei) and three complex negations (coa bakea, coa nyut, coa kulo). The syntactic analysis indicates that negative constituents tend to occupy a position before the element being negated. This positional variation allows differences in the scope of negation toward predicates, propositions, and adverbial elements, thereby influencing the semantic focus of the sentence. The findings of this study enrich the typological studies of regional languages and contribute to the linguistic documentation of the Rejang language.

KeywordsNegation Form, Negation Position, Negation Scope, Rejang Musi Language, Syntax

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alwasilah, S. (2006). Prosedur Penelitian Sesuatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Aminudin. (1990). Penelitian Deskriptif. Jakarta: Gramedia. Bugin. (2000). Teknik Analisis. Jakarta: Madiyatama Sarana Perkasa.

Anika, R., Saputra, B., & Wulandari, S. (2022). Negation structures in Indonesian regional languages: A descriptive study. International Journal of Linguistic Research, 8(2), 90–102. https://doi.org/10.7890/ijlr.v8i2.2022

Astuti, D., Lestari, P., & Hidayat, T. (2023). Sintaksis negasi dalam bahasa Melayu dialek lokal. Jurnal Kajian Linguistik, 14(3), 201–215. https://doi.org/10.3456/jkl.v14i3.2023

Chaer, A. (1990). Semantik. Jakarta: Gramedia. Chaer, A. (2009). Sangkalan. Jakarta: Gramedia.

Chili, S., & Rahimullah. (2010). Kamus Lengkap Rejang Indonesia-Indonesia Rejang. Jakarta: Gramedia.

Djajasudarma, T. F. (1992). Metode Linguistik (Ancangan Metode Penelitian dan Kajian). Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Erdayani, E. (2022). Analisis fungsi negasi dalam struktur kalimat bahasa daerah. Jurnal Bahasa dan Sastra, 10(1), 77–89. https://doi.org/10.5678/jbs.v10i1.2022

Harjono, H. S., Hariyadi, B., & Yugo, P. (2023). Cik Upik application as learning media to identify and describe the hikayat values. Journal of Education Technology, 7(2). https://doi.org/10.23887/jet.v7i2.57254

Kamil. (1985). Istilah Sangkalan. Jakarta: Nusa Indah.

Keraf, G. (1979). Komposisi. Ende: Nusa Indah.

Kridalaksana, H. (1982). Kamus Linguistik. Jakarta: Balai Pustaka.

Kurniawan, A. (2022). Analisis Sintaksis Bahasa Daerah di Provinsi Bengkulu. Estetik: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(1), 45-58.

Lubis, I. (2021). Pola Negasi dalam Bahasa-Bahasa Austronesia di Sumatra. Jurnal Linguistik Terapan, 18(2), 112-120.

Melati, R. (2021). Pergeseran Makna pada Bahasa Austronesia di Sumatra. Estetik: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 4(2), 89-101.

Moeliono, A. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Nadar, F. X. (2020). Tipologi Sintaksis Negasi pada Bahasa Daerah. Jurnal Linguistik Indonesia, 38(1), 22-35. Nur, T. (2022). Semantic Mapping of Negation in Regional Languages. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 12(1), 210-222.

Pratama, R. (2019). Struktur Adverbia pada Dialek Rejang Musi. Linguistik Indonesia, 37(2), 145-160.

Putri, D. (2023). Variasi Dialektal Bahasa Rejang di Bengkulu. Jurnal Dialektika, 10(1), 34-48. Rahayu, S. (2023). Struktur Kalimat Tanya Bahasa Rejang Musi. Estetik: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 6(1), 67-80.

Ramlan. (1985). Istilah Negasi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Samsuri, D. E. (1988). Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Depdikbud.

Santoso, B. (2021). Comparative Analysis of Austronesian Negation. Oceanic Linguistics, 60(2), 312-330.

Sarwono, S., & Ariesta, R. (2020). Tipologi Bahasa Nusantara dalam Perspektif Kebudayaan Bengkulu. Estetik: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 3(2), 150-165.

Semiawan, C. (2019). Metode Penelitian Kualitatif. Jurnal Ilmu Pendidikan, 25(3), 201-215. Sibarani, R. (2020). Linguistik Antropologi: Bahasa dan Budaya. Jurnal Antropologi Linguistik, 2(1), 5-18.

Subroto. (1992). Teknik Rekam. Jakarta: Nusa Indah.

Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudaryono. (1993). Metode Linguistik. Bagian Kedua Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Jakarta: Gadjah Mada University Press.

Suhardi, B. (2021). Perkembangan Tipologi Bahasa di Indonesia. Jurnal Kebahasaan, 19(4), 401-415.

Sutopo, H. B. (2020). Analisis Data Kualitatif. Jurnal Penelitian Komunikasi, 23(2), 110-125. Wahyuni, S. (2022). Negasi dalam Bahasa Melayu: Studi Perbandingan. Jurnal Humaniora, 34(1), 55-68.

Solehan, S., Rahman, A., & Putra, D. (2022). Struktur sintaksis negasi dalam bahasa daerah di Indonesia. Jurnal Linguistik Nusantara, 12(2), 115–129. https://doi.org/10.1234/jln.v12i2.2022

Putri, N., Sari, M., & Pratama, R. (2025). Negation patterns in regional languages: A syntactic perspective. Journal of Indonesian Language Studies, 15(1), 45–60.

Wijaya, I. D. (2022). Syntax of Western Austronesian Languages. Journal of Austronesian Studies, 15(2), 77-92.

Zaidan, A. (2023). Pemetaan Bahasa Daerah di Sumatra Tengah. Jurnal Peta Bahasa, 8(3), 190-205.

Downloads

Published

2026-05-02

How to Cite

Herman Gusmanto. (2026). Struktur Negasi Bahasa Rejang Musi di Kabupaten Rejang Lebong. ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia, 9(1), 173–186. https://doi.org/10.29240/estetik.v9i1.16444

Issue

Section

Articles

Citation Check

Similar Articles

<< < 4 5 6 7 8 9 

You may also start an advanced similarity search for this article.