Nilai Nasionalisme Kebangsaan Aktivis Rohis

Ashif Az Zafi

Abstract


Having a Nationalism Value is a duty for every citizen. In other words, it is an unconditional value. At the same time, the issue of racial disunity has been grown lately. This issue is related to religion. Most compelling evidence, high school students Nationalism Value moreover theirs who follow spiritual organization has been descending due to the incorporation between religion and nationality. The scope of this field research is within SMA Negeri 1 Purworejo. Qualitative analysis method supported by descriptive statistical data is being used in this study. As a result, this research found that Nationalism Value can be instilled through classroom learning, recitation and activities in the spiritual program. The value of Unity and Patriotism, which constitutes for Nationalism Value, is invested through verbal and non verbal communication. For this reason, Islamic religion teacher is the most crucial agent in instilling Nationalism Values to spiritual activists. In the event that 57% of students have a high Unity Value and 68% of students have high Patriotism Value, henceforth the Nationalism's Value of spiritual activists tends to be high.

Keywords


Value, Nationalism, Rohis

Full Text:

PDF

References


Ansori, Muhamad. 2017. Paham Radikalisme Sudah Racuni Pelajar, Pemerintah Didesak Agar Segera Turun Tangan. Sorot Purowrejo. Purowrejo.

Azra, Azyumardi, dkk. 2015. Pengayaan Muatan Nilai-nialai Budaya Damai dalam Materi Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah Menengah (Buku Panduan Bagi Guru). Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baidhawy, Zakiyudin. 2005. Pendidikan Islam Berwawasan Multikultural.Jakarta: Erlangga.

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. 2017. Transmisi Nilai-nilai Keagamaan Melalui Organisasi ROHIS (Orientasi Politik dan Sikap Toleransi Peserta Didik). Semarang.

Bano, Masooda, dkk. 2016. Study on Islamic Religious Education in Secondary Schools in Indonesia. Jakarta: Directorate General of Islamic Education.

Centre for Research and Development of Religious Education and Education, Board of Research, Development and Training. 2012.The Strategic Role of Religious Education in The Development of Culture of Peace.Bogor: Ministry of Religious Affair.

Cangara, Hafied. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Darraz, M. A. 2013. Radikalisme dan Lemahnya Peran Pendidikan Kewargaan. Jakarta: MAARIF.

Detik. 2018. Berita Hoax Bisa Ancam Persatuan Dan Kesatuan Bangsa. https://news.detik.com/berita/d-3384849/mui-berita-hoax-bisa-mengancam-persatuan-dan-kesatuan-bangsa diakses pada 21 Maret 2018.

Effendy, Onong Uchjana. 2005. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gaus, A. 2013. Pemetaan Problem Radikalisme di SMU Negeri di 4 Daerah. Jakarta: MAARIF.

Hainun, Rusnita. 2014 Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah: Studi Kasus Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu.Disertasi.Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hardjana, Agus M. 2003. Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.

Hayadin. 2013. Tragedi Kecolongan Rohis: Keterlibatan Alumni Rohis SMKN Anggrek pada Aksi Radikalisme. Jurnal Al-Qalam.

Imania. 2012. Pengaruh Keaktifan Berorganisasi Kerohanian Islam (Rohis) Terhadap Kemandirian Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Salatiga Tahun Pelajaran 2012-2013. Salatiga: Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAIN.

Ismmail, Faisal. 2014. Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kartawinata, Ade Makmur. 1999. Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Suatu renungan Pembentukan Indonesia Merdeka Ke Arah Kebudayaan Kebangsaan. Bandung: Primaco Akademika.

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara Kesatuan. Yogyakarta: Kanisius.

Khamdan, M. 2016. Pengembangan Nasionalisme Keagamaan Sebagai Strategi Penanganan Potensi Radikalisme Islam Transnasional. Jurnal Addin.

Membangun Budaya Damai melalui Pendidikan Agama. http://blasemarang.kemenag.go.id diakses pada 19 Maret 2018.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Najib Kailani. 2011. Kepanikan Moral dan Dakwah Islam Populer,Jurnal Analisis Vol. XI No. 1.

Noer, A., Tambak, S., Rahman, H. 2017. Upaya Ekstrakurikuler Kerohanian Islam (ROHIS) dalam Meningkatkan Sikap Keberagamaan Siswa di SMK Ibnu Taimiyah Pekanbaru. Jurnal AlThariqah.

Peraturan Menteri Agama No. 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Pada Sekolah.

Ridwan, N. K. 2012. Pancasila dan Deradikalisasi Berbasis Agama. Jurnal Pendidikan Islam.

Salim, Hairus HS, Najib Kailani dan Nikmal Azekiyah. 2011. Politik Ruang Publik Sekolah: Negosiasi dan Kontestasi di SMUN Yogyakarta. Yogyakarta: Monograf CRCS UGM.

Soegondo, Sari. 2016. Kementerian Agama Kukuhkan Visi dan Kembangkan Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Islamdi Indonesia. ACDP dan Kementerian Agama.

Sugiyarto. 2012. Tantangan Terhadap Eksistensi Negara Bangsa Indonesia dan Pemaknaan Kembali Nasionalisme. Jurnal Humanika.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wahid Foundation. 2016. Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Rohani Islam di Sekolah-sekolah Negeri. Jakarta.

Wajidi, Farid. 2011. Kaum Muda dan Pluralisme Kewargaan dalam Zainal Abidin Bagir dkk. Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Jakarta: CRCS-Mizan.

West, Richad dan Lynn H. Turner. 2010. Introducing Communication Theory. New York: McGraw-Hill.




DOI: http://dx.doi.org/10.29240/belajea.v4i2.861

Refbacks



Copyright (c) 2019 Ashif Az Zafi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXED BY:

CrossrefMorarefGoogle ScholarDimensionsPKP Index



free web stats Belajea's Visitors
Creative Commons LicenseThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.